Bumi Perkemahan Puspakenanga

Dua orang berpakaian seragam pramuka tersebut duduk berdiang di depan api unggun yang menyala-nyala. Salah seorang dari mereka menambahkan kayu bakar ke dalam api unggun tersebut di atas sehingga semakin besar. Sementara pemuda yang satu tersebut di atas sibuk membenahi kayu-kayu yang sedang dibakar, pemuda yang lainnya mengeluarkan teks renungan malam api unggun yang rencananya harus dia bacakan di hadapan semua orang yang mengikuti kegiatan perkemahan pramuka di bumi perkemahan Puspakenanga besok malam.

Sumber: Google Image

“Sudah hapal belum?”, tanya pemuda yang sedang membereskan api unggun itu yang kemudian diketahui bernama Subbi.

“Sedikit lagi nih”, jawab Ianto, pemuda yang sedang membaca teks renungan malam api unggun tersebut di atas.

Mereka berdua kemudian sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing hingga malam semakin larut.

Ianto melipat teks yang sedang dibacanya tersebut di atas, memasukkannya ke saku bajunya dan kemudian berkata kepada Subbi: “Aku lapar. Ayo kita cari sesuatu untuk dimakan”.

“Tapi makan apa?”, demikian sautan Subbi.

Ianto terdiam karena dia juga tidak tahu mau makan apa malam-malam begini, di tempat yang jauh dari keramaian orang pula.

Subbi juga jadi ikut-ikutan diam karena dirimang memang tidak tahu apa yang bisa dimakan di waktu hampir tengah malam di sebuah bumi perkemahan yang jauh dari pusat keramaian kota seperti ini.

“Tadi aku lihat ada ladang ketela di kiri jalan”, kata Subbi.

“Terus kamu mau aku cabut satu terus kita bakar, gitu?”, Ianto menyahut lantang.

“Yuk, kita cabut sama-sama mumpung tidak ada orang”, ujar Subbi.

“Emang kamu berani?”, tanya Ianto.

Mereka lantas tertawa-tawa karena mereka sama-sama takut untuk mencabut ketela di ladang ketela yang telah mereka bicarakan tersebut di atas.

Ianto kemudian terpikir mungkin saja Subbi terkena dampak negatif televisi sehingga memiliki pikiran gila untuk mencabut ketela pohon di waktu malam di ladang milik orang lain yang notabene merupakan tindakan pencurian, yang meskipun kecil, bisa menimbulkan malapetaka bagi mereka berdua jika sampai ketahuan. Namun demikian, Ianto merasa terlalu mengantuk untuk membicarakannya, sedemikian mengantukknya dia sehingga dia jatuh tertidur di depan api unggun yang digunakannya untuk berdiang bersama dengan Subbi.